Tampilkan postingan dengan label ramen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramen. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Classification of Wine

Regulations govern the classification and sale of wine in many regions of the world. European wines tend to be classified by region (e.g. Bordeaux, Rioja and Chianti), while non-European wines are most often classified by grape (e.g. Pinot Noir and Merlot). More and more, however, market recognition of particular regions is leading to their increased prominence on non-European wine labels.

Examples of non-European recognized locales include Napa Valley in California, Willamette Valley in Oregon, Columbia Valley in Washington, Barossa Valley and Hunter Valley in Australia, Central Valley in Chile, Vale dos Vinhedos in Brazil, Hawke's Bay and Marlborough in New Zealand, Okanagan Valley and Niagara Peninsula in Canada.

Some blended wine names are marketing terms, and the use of these names is governed by trademark law rather than by specific wine laws. For example, Meritage (sounds like "heritage") is generally a Bordeaux-style blend of Cabernet Sauvignon and Merlot, and may also include Cabernet Franc, Petit Verdot, and Malbec. Commercial use of the term "Meritage" is allowed only via licensing agreements with an organization called the "Meritage Association".

Source : wikipedia


Look also : ramen, sate

Minggu, 17 Oktober 2010

Nikmatnya Milkshake

Milkshake adalah minuman, manis dingin yang terbuat dari susu, ice cream atau susu es, dan penyedap atau pemanis seperti sirup buah atau saus cokelat. Milkshake biasanya disajikan dalam gelas tinggi dengan jerami, dan whipped cream dapat ditambahkan sebagai topping. Beberapa rasa milkshake populer meliputi vanili, coklat, dan stroberi. Di beberapa negara Persemakmuran dan beberapa bagian New England dan New York City di Amerika Serikat, milkshake dilakukan tanpa es krim. Di daerah, milkshake dibuat dengan es krim yang biasa disebut sebuah frappe.

Full-service restoran, air mancur soda, dan pengunjung biasanya menyiapkan dan campuran goyang "dengan tangan" dari sekop es krim dan susu di blender mixer atau minuman menggunakan cangkir stainless steel. Sebagian besar gerai makanan cepat saji tidak membuat getar dengan tangan dengan es krim, dengan beberapa pengecualian seperti rantai AS Jack in the Box dan Carl's Jr.

Sebaliknya, mereka membuat getar pada mesin milkshake otomatis yang membekukan dan melayani campuran milkshake premade yang terdiri dari susu, agen pemberi rasa manis, dan agen penebalan. Beberapa restoran cepat saji seperti Dairy Queen melayani milkshake yang disusun dengan memadukan soft-melayani es krim (atau susu es) dengan manis, rasa sirup seperti sirup coklat dan sirup rasa buah dan susu.


Sumber : Wikipedia


Lihat juga : sushi, ramen

Milkshake in 1940s and 1950s

By the 1950s, popular places to drink milkshakes were Woolworth's "5 & 10" lunch counters, diners, burger joints, and drugstore soda fountains. These establishments often had neon light signs, checkerboard-patterned linoleum floor tiles, chrome barstools, vinyl booths, formica counter-tops with coin-operated jukeboxes, a board of daily specials, a counter top donut display case, and prominently displayed behind the counter, a shining chrome or stainless steel milkshake mixing machine.

These establishments made milkshakes in Hamilton Beach or similar styles of drink mixers, which had spindles and agitators that folded air into the drinks for "smooth, fluffy results" and served them in 12½-ounce tall, "y"-shaped glasses. Soda fountain staff had their own jargon, such as "Burn One All the Way" (chocolate malted with chocolate ice cream), "Twist It, Choke It, and Make It Cackle" (chocolate malted with an egg) "Shake One in the Hay" (a strawberry shake) and a "White Cow" (a vanilla milkshake). In the 1950s, a milkshake machine salesman named Ray Kroc bought exclusive rights to the 1930s-era Multimixer milkshake maker from inventor Earl Prince, and went on to use automated milkshake machines to speed up production at McDonald's restaurants.

In the 1950s, milkshakes were called "frappes", "velvets," "frosted [drinks]", or "cabinets" in different parts of the US. A specialty style of milkshake, the "concrete" was "...a milk shake so thick that the server hands it out the order window upside down, demonstrating that not a drop will drip." In 1952, the Newport Daily News in Rhode Island contained a "Guide For Top Quality Ice Cream Sodas Cabinets Milk Shakes", which shows the use of the term "cabinet" in print. An article from 1953 in the Salisbury Times (in the state of Maryland) suggests that shakes can be made in a jar by shaking well. The article states that by adding four large tablespoons of ice cream, the drink becomes a "frosted shake."


Source : Wikipedia

Look also : ramen, pasta

Kamis, 14 Oktober 2010

Mirin

Mirin (味醂, みりん?)adalah bumbu dapur untuk masakan Jepang berupa minuman beralkohol berwarna kuning, berasa manis, mengandung gula sebanyak 40%-50% dan alkohol sekitar 14%. Mirin digunakan pada masakan Jepang yang diolah dengan cara nimono (merebus dengan kecap asin dan dashi) dan campuran untuk nasi di sushi dan campuran berbagai macam saus, seperti saus untuk kabayaki (tare), saus untuk soba (soba-tsuyu), saus untuk tempura (tentsuyu), dan saus teriyaki.

Kandungan alkohol pada mirin dapat menghilangkan rasa amis pada ikan dan mengurangi risiko hancur bahan makanan yang dimasak. Kandungan gula pada mirin digunakan untuk menambah rasa manis bahan makanan yang dimasak, membuat mengkilat bahan makanan yang dimasak cara teriyaki dan menambah harum masakan.

Mirin diminum di Jepang sebagai campuran Shirozake yang diminum pada perayaan Hina Matsuri atau campuran sake yang diminum pada tradisi toso mendoakan keselamatan di hari pertama tahun baru. Di Jepang, mirin merupakan minuman keras sama halnya seperti bir atau wiski yang dikenakan pajak minuman keras dan pembuatannya juga memerlukan izin khusus. Sampai tahun 1996, mirin hanya bisa dibeli di toko yang mempunyai izin menjual minuman keras, tapi sekarang boleh dijual di mana saja dan penjual hanya memerlukan izin menjual mirin secara eceran.

Mirin-fū (みりん風?) adalah bumbu dapur dengan rasa seperti mirin, tapi biasanya mengandung alkohol di bawah 1 persen, dibuat dari cairan gula yang berasal dari beras (mizu ame) ditambah bumbu masak dari bahan kimia. Di Jepang, mirin-fū tidak dikenakan pajak minuman keras sehingga dapat dijual dengan harga murah. Hon-mirin (本みりん?) adalah sebutan yang sering dipakai untuk mirin asli, digunakan untuk membedakan mirin asli dengan mirin buatan.


Sumber : Wikipedia

Lihat juga: ramen, seafood, dim sum, ice cream

Rabu, 13 Oktober 2010

Sate Kambing Pak Darso

Menurutku, di Solo dan sekitarnya, rata-rata warung sate menawarkan masakan yang enak. Baik itu warung terkenal maupun tidak terkenal. Rasanya relatif enak, dan yang utama tidak bau prengus kambing. Namun warung yg satu ini menawarkan cita rasa yang berbeda dengan genre yang sudah menjadi arus utama warung sate. Entah belajar atau tidak tentang strategi diferensiasi dalam pemasaran produk, tapi inilah yang dilakukan Pak Darso, penjual sate kambing di Pengging, 18 km dari Solo.

Warung ini menjual sate kambing dan masakan daging kambing lainnya. Sebut saja, sate bakar, bakar masak, sate buntel, tongseng (buntel, daging, kelenyer, seger), tengkleng, gule, nasi goreng, dan nasi godog. Rasa yang ditawarkan oleh warung ini lebih lembut tinimbang masakan kambing di warung lain yang mengandalkan rasa empon-empon dan berbagai bumbu yang sangat spicy untuk menawarkan bau daging kambing yang menyengat.

Sate Bakar
Jenis ini mungkin tidak banyak bedanya dengan sate bakar warung yang lain. Mungkin karena sama-sama menggunakan kecap lombok gandaria, kecapnya wong Solo (halaaaaah... ini bukan iklan!). Namun yang membuat berbeda adalah irisannya yang tak terlalu besar dan non lemak. Mungkin karena irisannya pas ini pula sate tersebut terasa lebih empuk, bara arang lebih mudah mematangkannya.


Sumber : wedangansoloraya.multiply


Lihat juga :

soto

seafood

hanamasa

burger king


ramen

sushi


pasta

Selasa, 12 Oktober 2010

Torigami Sushi

awal september ini saya makan di torigami sushi bersama teman saya... Tadinya mau pesan ramen, tapi nggak jadi.

untuk menu awal saya memesan Crunchy Salmon Rolls seharga 48ribu... Crunchy salmon rolls nya enak walau nasi yang dijadikan campurannya itu agak lembek ya...

lalu pesanan ke dua saya memesan satsumajiru soup seharga 33rb...Walaupun agak lama pesanan saya datang...tapi rasanya tidak mengecewakan...(tapi saya lupa mengambil gambarnya sad )

dan untuk penutup saya memesan tempura ice cream seharga 32rb...lagi-lagi tempura ice creamnya lama banget...sampe2 hampir saya batalkan pesanan saya...dan setelah tempura ice cream disantap...rasanya oke...tidak mengecewakan...

dan untuk minuman ocha baik cold ataupun hot tidak dikenakan biaya loh alias gratis...



Sumber : openrice.com